Showing posts with label ARTIKEL. Show all posts
Showing posts with label ARTIKEL. Show all posts

Friday, October 31, 2014

10 Definisi Hukum Secara Abstrak/Meluas (Umum)

..:::HARIYANTO ANGGUN WIBOWO:::..

1.  Philippe Nonet
 Bahwa hukum bukanlah apa yang oleh sarjana hukum anggap sebagai aturan wajib, tetapi lebih dari itu, sebagai contoh, pengaturan-pengaturan konkrit yang dilakukan oleh para hakim, polisi, jaksa, ataupun pejabat administrasi.





Sumber :


2.         W. Friedmann
Hukum adalah suatu sistem yang terdiri dari struktur, substansi dan kultur.




Sumber :







3.  David M. Trubruch

 Hukum itu meluas yang mempunyai tiga ciri pokok (1) merupakan sistem peraturan, (2) merupakan suatu bentuk tindakan manusia, (3) merupakan bagian sekaligus otonom terhadap negara.





Sumber :



4.       T. Arnold

 Bahwa dalam kenyataannya hukum tidak akan pernah dapat didefinisikan, tetapi ia menyadari  bagaimanapun kalangan hukum tidak akan pernah menghentikan perjuangan mereka untuk mendefinisikan hukum, sebab bagi mereka  merupakan suatu bagian yang esensial dari cita-cita mereka yang menganggap adalah rasional dan mampu untuk mendefinisikan hukum itu.


Sumber :


5.       Soerjono Soekamto
Mempunyai berbagai arti:
1. Hukum dalam arti ilmu (pengetahuan)
hukum
2. Hukum dalam arti disiplin atau system
ajaran tentang kenyataan
3. Hukum dalam arti kadah atau norma
4. Hukum dalam ari tata hukum/hukum positf
tertulis
5. Hukum dalam arti keputusan pejabat
6. Hukum dalam arti petugas
7. Hukum dalam arti proses pemerintah
8. Hukum dalam arti perilaku yang teratur
atau ajeg
9. Hukum dalam arti jalinan nilai-nilai

Sumber :


6.         Mochtar Kusumaatmadja

Pengertian hukum yang memadai harus tidak hanya memandang hukum itu sebagai suatu perangkat kaidah dan asas-asas yang mengatur kehidupan manusia dalam masyarakat, tapi harus pula mencakup lembaga (institusi) dan proses yang diperlukan untuk mewujudkan hukum itu dalam kenyataan.


Sumber :

7.         Dr. Soejono Dirdjosisworo, S.H

. menyebutkan aneka arti hukum yang meliputi: (1) hukum dalam arti ketentuan penguasa (undang-udang, keputusan hakim dan sebagainya), (2) hukum dalam arti petugas-petugas-nya (penegak hukum), (3) hukum dalam arti sikap tindak,  (4) hukum dalam arti sistem kaidah, (5) hukum dalam arti jalinan nilai (tujuan hukum), (6) hukum dalam arti tata hukum, (7) hukum dalam arti ilmu hukum,
(8) hukum dalam arti disiplin hukum.


Sumber :


8.         R. Soeroso, SH

Definisi hukum secara umum : himpunan peraturan yang dibuat oleh yang berwenang dengan tujuan untuk mengatur tata kehidupan bermasyarakat yang mempunyai cirimemerintah dan melarang serta mempunyai sifat memaksa dengan menjatuhkan sanksi hukuman bagi yang melanggarnya.
Unsur-unsur yang terkandung dalam definisi hukum sebagai berikut :
1. peraturan dibuat oleh yang berwenang
2. tujuannya mengatur tata tertib kehidupan masyarakat
3. mempunyai ciri memerintah dan melarang
4. bersifat memaksa dan ditaati


Sumber :


9.         Menurut Van Apeldoorn

Definisi hukum masih dicari-cari dan belum didapatkan, karena hukum mencakup banyak segi dan aspek, serta karena luasnya ruang lingkup hukum.






Sumber :





10.    Lemaire

Hukum mempunyai banyak segi dan meliputi segala sesuatu, sehingga orang tidak mungkin membuat suatu definisi apa hukum itu sebenarnya.








Sumber :
http://hariyantosoftnet.blogspot.com/2014/10/10-definisi-hukum-secara-abstrakmeluas.html
Read More ->>

Wednesday, October 29, 2014

MISTERI HAIKAL SULAIMAN




Haikal Sulaiman ‘alaihis salam yang diklaim orang-orang Yahudi terpendam dan tertimbun di area Masjid al-Aqsa sekarang adalah salah satu isu utama di balik penjajahan Israel di Palestina. Tulisan ini memaparkan secara ringkas informasi tentang Haikal Sulaiman itu sendiri dan misteri keberadaannya.
Haikal Sulaiman ialah tempat ibadah yang dibangun oleh Nabi Sulaiman ‘alaihis salam termasuk penyembelihan kurban persembahan kepada Allah ‘azza wa jalla. Dalam Haikal ini terdapat kuil suci, dan tabut. Didirikan di kola Ursyalim (Yerusalem) di atas bukit Muria, di tempat yang sama Nabi Daud ‘alaihissalam sebelumnya juga mendirikan tempat beliau beribadah.
Bani Israel mengalami peperangan dalam rentang waktu cukup lama. Mereka berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain tanpa wilayah pemukiman yang pasti, demikian seterusnya sampai era Nabi Daud ‘alaihis salam. Oleh karena itu mereka pun tidak memiliki rumah ibadah untuk melaksanakan ritual ibadah. Mereka mengusung-usung tabut dari satu tempat ke tempat yang lain. Ketika Nabi Sulaiman ’alaihis salam memerintah Bani Israel, kondisinya sudah sangat membaik, beliau berhasil meredam peperangan. Periode beliau dapat dipandang sebagai masa keemasan Bani Israel; harta berlimpah, kondisi keamanan stabil, pemerintahan kerajaan mapan. Deegan situasi yang kondusif seperti itu Nabi Sulaiman pun dapat mendirikan Haikal.
Tabut sendiri adalah peti yang dibuat Bani Israel, di dalamnya terdapat tongkat Nabi Sulaiman ’alaihissalam dan Nabi Harun ’alaihissalam ; juga dua lempengan batu yang bertuliskan ayat-ayat Taurat; dan naskah kitab Taurat yang diyakini ditulis tangan oleh Nabi Musa ’alaihissalam; berikutnya bejana isi tiga liter yang di dalamnya ada al-mann, yaitu makanan dan minuman yang sama sekali tidak melibatkan campur tangan manusia. Al-Mann ialah sejenis manisan yang dihasilkan oleh pohon-pohonan yang mendapat siraman hujan sehingga terbentuk seperti sarang burung, kurang ­lebih seperti sarang burung Layang-­layang. Sebagian ulama Tafsir ada yang mengatakan bahwa al-Mann itu adalah sarang burung Gagak. Sedangkan salwa adalah sejenis burung yang gemuk penuh daging. Allah ‘azza wa jalla berfirman dalam al-Qur’an,
“Dan Kami menaungi kamu dengan awan, dan Kami turunkan untuk kamu mann dan salwa” (Q.S. al-Baqarah 02: 57)
Mann dan salwa diturunkan Allah kepada Bani Israel.
Nabi Sulaiman ’alaihissalam memulai pembangunan Haikal pada tahun keempat pemerintahan beliau dengan mempekerjakan 180 ribu pekerja. Bebatuannya didatangkan dari Yaman, dan kayu dari Libanon. Tiang-tiangnya berlapis emas murni, sementara dindingnya dihiasi dengan batu permata dan pualam. Pembangunan Haikal memakan waktu delapan tahun berturut-turut.
  1. Kuil Suci: bangunan permanen berbentuk kubus, tidak berjendela, dibangun di area tertinggi Haikal Sulaiman yang disebut dengan Haikal. Antara Kuil Suci dan bagian lain bangunan terdapat dinding pemisah dan rantai dari emas, dan beberapa pintu yang hanya dimasuki oleh para pemimpin spiritual pada hari pengampunan.
  2. Tabut adalah-tempat–menyimpan Tabut sebagaimana yang telah disebutkan di atas.
  3. Karaben ialah: patung-patung burung bersayap besar yang menaungi tabut di bagian kiri dan kanan Haikal Sulaiman.
  4. Altar Kurban,yaitu: tempat penyembelihan kurban yang dilaksanakan setiap hari sebagai ibadah kepada Allah.
  5. Menara dan Meja Roti Per­sembahan, yaitu tiang-tiang di mana di bawahnya diletakkan kurban dan roti persembahan.
  6. Tempat mencuci kurban dan mandi pemimpin spiritual, terdapat di luar Haikal.
Haikal Sulaiman mengalami tiga kali penghancuran, yang semuanya terjadi sebelum Masehi. Penghancuran pertama dilakukan oleh Raja Nebukadnezar ketika berhasil menguasai Yerusalem. Setelah Raja Heredos membangunnya kembali untuk menarik simpati orang-orang Yahudi, Haikal Sulaiman kembali dihancurkan oleh Raja Anthiokhos yang menyerang Yerusalem. Ke­mudian Herodos kembali merebut kekuasaan dengan bantuan orang-­orang Romawi, dia pun kembali membangun Haikal untuk kali ketiga. Tetapi tidak lama kemudian kekuasaannya berakhir di tangan panglima perang Romawi Adrianus yang juga menghancurkan Yerusalem dan membersihkannya dari orang­-orang Yahudi dengan melakukan pembantaian dan pengusiran. Demikian kehancuran bangunan Haikal Sulaiman ini.

Solomons_Cherubim

Setelah agama Nasrani tersebar di Palestina, orang-orang Nasrani pun menghancurkan pondasi Haikal Sulaiman di masa pemerintahan kaisar Romawi Konstantin, sehingga tidak berbekas sama sekali kecuali bagian pagar yang sebagian besarnya adalah dinding Buraq atau yang disebut oleh orang Yahudi saat ini sebagai tembok ratapan. Bagian-bagian yang hilang tidak berbekas itu yang hingga sekarang masih dicari-cari oleh orang Yahudi. Motivasi mereka untuk menemukan kembali situs Haikal ialah: menghancurkan Masjid al-Aqsa dan membangun kembali Haikal Sulaiman.
Sesunggulinya tidak seorang pun yang menyangkal bahwa Nabi Sulaiman ‘alaihissalam telah membangun tempat suci untuk beribadah kepada Allah ‘azza wa jalla; tidak dipungkiri bahwa bangunan tersebut pun menjadi salah satu rumah Allah. Oleh karena itu Allah menyebutnya dalam al-Qur’an sebagai al-Masjid al-Aqsa sebagaimana yang terdapat di awal surah al-Isra. Orang-orang Yahudi pada saat ini berusaha keras untuk membuktikan bahwa Haikal Sulaiman sebagaimana yang dibangun oleh Nabi Sulaiman berada tepat dan terkubur pada lokasi Masjid al-Aqsa hari ini dengan luas yang sama. Namun demikian, terlepas apakah mereka betul akan menemukannya atau tidak ada sama sekali, sesungguhnya kita umat Islam lebih berhak atas Nabi Sulaiman dan rumah ibadah yang telah beliau bangun. Gambar rekaan bangunan Haikal Sulaiman seperti yang dipublikasikan oleh orang-orang Yahudi kepada dunia sebenarnya tidak memiliki sumber yang jelas dan dapat dipertanggungjawabkan. Selain itu desain dan ornamen bangunan yang ditampilkan menjadi pertanyaan tersendiri di kalangan arkeolog; karena jelas-jelas bercorak Romawi, berbeda jauh dengan gaya bangunan yang dikenal pada masa Nabi Sulaiman.
Dari sisi lain, kata Haikal sendiri berasal dari bahasa Sumeria aikal kemudian diarabkan menjadi Haikal yang berarti bangunan besar, kemudian lebih umum digunakan untuk bangunan besar yang dipakai untuk beribadah. Karena itu rumah ibadah yang dibangun oleh Nabi Sulaiman tersebut pun beliau sebut Aikal. Kita umat Islam beriman bahwa Nabi Sulaiman bin Daud `alaihima as-salam beliaulah yang mendirikan Masjid al-Aqsa. Orang Yahudi menyebutnya Haikal, dan kita menyebutnya Masjid. Imam Ahmad dalam Musnad-nya dan Ibnu Majah dalam Sunan-nya meriwayatkan dengan sanad yang shahih dari Amru bin al-‘Ash bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ­bersabda,
“Tatkala Sulaiman bin Daud selesai membangun Baital-Magdis, dia berdo’a kepada Allah meminta tiga perkara: Hukum yang sesuai dengan hukum-­Nya; kekuasaan yang tidak dimiliki oleh seorang pun setelah dia; dan tidak seorang pun yang mendatangi masjid ini semata-mata untuk shalat, melainkan dihapuskan dosa-dosanya sebagaimana dia dilahirkan oleh ibunya. Rasulullah berkata, ‘Adapun yang dua, sesungguhnya Allah telah mengabulkannya, saya berharap beliau juga diberi yang ketiga.’”
Masjid al-Aqsa yang ada sekarang dibangun di atas reruntuhan Masjid yang dibangun oleh Nabi Sulaiman ‘alaihissalam yang disebut Haikal oleh orang Yahudi, tetapi sumber-sumber Yahudi sendiri saling bertentangan dalam menjelaskan luasan dan spesifikasi atau rincian Haikal. Dalam kitab Hezkel (42: 15, 19) dijelaskan bahwa panjang masing-masing pagar terluar ialah 500 qasbah sehingga luas totalnya ialah 2,5 kilometer persegi. Padahal pada saat itu luas Masjid al-Aqsa tidak lebih dari satu kilometer persegi. Inilah diantara bukti ketidakbenaran tuduhan orang‑orang Yahudi. Pertentangan serupa juga terdapat antara perjanjian lama dan sumber-sumber Yahudi; keterangan yang terdapat dalam Safar Raja-Raja Pertama (6:3) berbeda sekali dengan yang disebutkan dalam Berita Hari-Hari Kedua (3:3). Selain membuktikan kebo­hongan klaim Haikal Sulaiman versi Yahudi, pertentangan itu juga membuktikan bahwa kitab-kitab tersebut bukanlah kitab suci yang murni dari Allah; mustahil kontradiksi semacam ini dilakukan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, Maha Suci Allah dari hal-hal seperti itu.
Sesungguhnya dalih orang-orang Yahudi dalam melakukan penggalian di bawah masjid al-Aqsa dalam rangka mencari dan meneliti situs peninggalan Nabi Sulaiman adalah kebohongan belaka, karena Masjid al-Aqsa berada di daratan tinggi yang terdiri atas bebatuan, bukan tanah atau padang pasir. Dengan demikian mustahil dibawahnya tertimbun situs-situs peninggalan Nabi Sulaiman. Gambar Haikal yang dipublikasikan oleh Yahudi sendiri pun menggambarkan bahwa posisinya yang berada didataran tinggi dikelilingi oleh pagar pada keempat sisinya persis seperti Masjid yang ada sekarang. Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa tujuan sebenarnya dari penggalian yang mereka lakukan di bawah Masjid al-Aqsa adalah untuk membuat keropos tanah pertapakan Masjid supaya ambruk. Jika Masjid telah ambruk – demi Allah, semoga hal tersebut tidak terjadi – maka Masjid tersebut pun tinggal puing-puing dan sisa-sisanya, sehingga status kita umat Islam sama dengan mereka, sama-sama tidak memiliki bangunan fisik hanya situs bersejarah, lalu masing-masing pihak, baik kaum Muslim maupun Yahudi sama-sama mengajukan klaim hak untuk membangun kembali tempat suci di sana. Selain itu penggalian dan penghancuran terselubung terhadap Masjid al-Aqsa mereka lakukan juga dalam rangka berusaha menemukan kembali tulang-belulang Yasu’ dan harta peninggalan Nabi Sulaiman yang mereka yakini terpendam di sekitar lokasi ini.
Patut diketahui bahwa Quds, berdasarkan piagam internasional tidak dianggap sebagai kota Arab maupun Yahudi, tetapi dibawah penguasaan amnesti Internasional, karena keberadaannya sebagai warisan peradaban dunia,berdasarkan resolusi tahun 1947, yang berarti bahwa masyarakat Internasionallah yang berhak menentukan bangunan apa yang lebih pantas dibangun kembali jika Masjid al-Aqsa betul-betul runtuh. Jika itu sampai terjadi kita dapat menebak ke arah mana pilihan “masyarakat internasional” tersebut di arahkan.
Oleh karenanya umat Islam harus mewaspadai tipu daya Yahudi, wajib untuk menyatukan kata menghadang tindak-tanduk orang-orang Yahudi yang membabi buta terhadap tanah dan Masjid yang diberkahi Allah. Sesungguhnya hal tersebut merupakan amanah di pundak kita. Hendaklah kita mencemaskan suatu pagi saat kita bangun tidur ternyata kita tidak lagi menjumpai Masjid al-Aqsa di tempatnya, lalu kita pun menyesali, tetapi penyesalan di waktu yang tidak lagi berguna.



ARTIKEL SEJARAH LAINNYA :
- Tempat Ibadah Nabi Sulaiman as
Read More ->>

Tempat Ibadah Nabi Sulaiman as



http://hariyantosoftnet.blogspot.com/2014/10/tempat-ibadah-nabi-sulaiman-as.html
Tempat ibadah Sulaiman atau Haikal Sulaiman terletak di Ursyilim (Yarusalem). Ia adalah sentral ibadah kaum Yahudi dan simbol sejarah kaum Yahudi serta sebagai kebanggaan mereka. Raja Sulaiman telah membangunnya dan mengeluarkan harta yang tidak sedikit untuk mendirikannya. Bahkan ia memerlukan seratus delapan puluh ribu pekerja. Sulaiman telah mendatangkan emas dari Thirsis dan kayu dari Lebanon dan batu mulia dari Yaman. Setelah tujuh tahun dari pembangunan yang terus-menerus, Haikal Sulaiman menjadi sempurna. Saat itu ia menjadi kekaguman dan simbol kejayaan di dunia.


Berulang kali ada usaha untuk menghancurkan bangunan tersebut. Orang- orang yang tamak dan para penyerang bertujuan untuk merampas harta benda yang bernilai yang terdapat dalam Haikal Sulaiman. Mereka merosak sebahagian darinya lalu salah seorang raja berusaha memperbaikinya kerana saking cintanya kepada orang-orang Yahudi. Pada kali ini pembangunan tempat beribadah itu membutuhkan waktu empat puluh enam tahun sehingga ia pun menjadi suatu bangunan yang besar yang menakjubkan yang dikelilingi oleh tiga pagar besar. Ia terdiri dari dua halaman besar: yaitu halaman luar dan halaman dalam. Halaman dalam dibangun di atas tiang-tiang ganda yang terbuat dari marmar. Sedangkan halaman luar dari tempat ibadah itu meliputi gerbang-gerbang besar yang ditutup oleh emas dan sepuluh pintu gerbang dilapisi dengan tembaga Kurnusus. Para raja terus memberikan hadiah untuk pembangunan dan penyempurnaan tempat ibadah itu sampai akhir zamannya, sehingga tempat peribadatan itu memuat perbendaharaan harta yang tidak ternilai.


Tujuan utama dari pembangunan Haikal Sulaiman adalah untuk menyembah kepada Allah s.w.t di dalamnya. Tempat ibadah itu merupakan masjid bagi orang-orang yang bertauhid dan orang-orang mukmin. Tentu keindahan dan kebesarannya tidak dimaksudkan memalingkan manusia dari menyembah selain Allah s.w.t. Dan barangkali kebesaran bangunan itu merupakan simbol kekuatan negara dan kekuatan akidahnya. Namun sesuai dengan perjalanan waktu, mulailah terjadi perubahan dan penyimpangan. Seharusnya ibadah hanya ditujukan kepada Allah s.w.t, tiba-tiba kaum berpaling dan malah mengagumi kulit dan meninggalkan hakikat.


Akhirnya, nasib tempat ibadah itu sama dengan nasib yang dialami tempat-tempat ibadah lainnya. Haikal Sulaiman adalah simbol tauhid dan penyembahan kepada Allah s.w.t yang tiada sekutu bagi-Nya. Kemudian berlalulah tahun demi tahun sehingga berubahlah haikal itu menjadi lempengan emas yang mengkilat yang menyembunyikan di bawahnya kepentingan agama Yahudi.


"Orang-orang Yahudi menodai kesucian tempat ibadah itu dan mereka melecehkan keindahannya di mana mereka menjadikannya sebagai pasar, tempat jual-beli. Kemudian tempat itu disesaki oleh para penjual sapi, kambing, dan merpati hingga tempat itu menjadi kotor dan berubah menjadi kandang binatang. Di tempat itu terjadi kegaduhan dan kebisingan di mana orang-orang melakukan transaksi jual-beli dan menukar wang di situ." (Injil Matta)


Ketika tempat ibadah itu kehilangan hakikatnya dan menjadi pasar tempat berdagang, Allah s.w.t mengutus orang-orang yang menghancurkan tempat itu. Allah s.w.t berfirman:


"Dan telah Kami tetapkan terhadap Bani Israil dalam kitab itu: 'Sesungguhnya kamu akan membuat kerosakan di muka bumi ini dua kali dan pasti kamu akan menyombongkan diri dengan kesombongan yang besar. Maka apabila datang saat hukuman bagi (kejahatan) pertama dari kedua (kejahatan) itu, Kami datangkan kepadamu hamba-hamba Kami yang mempunyai kekuatan yang besar, lalu mereka merajalela di kampung-kampung, dan itulah ketetapan yang pasti terlaksana. Kemudian Kami berikan kepadamu giliran untuk mengalahkan mereka kembali dan Kami membantumu dengan harta kekayaan dan anak-anak dan Kami jadikan kamu sekelompok yang lebih besar. Jika kamu berbuat baik (bererti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat, maka (kejahatan) yang kedua, (Kami datangkan orang-orang lain) untuk menyuramkan muka- muka kamu dan mereka masuk ke dalam masjid, sebagaimana musuh- musuhmu memasukinya pada kali pertama dan membinasakan sehabis-habisnya apa saja yang mereka kuasai. Mudah-mudahan Tuhanmu akan melimpahkan rahmat-Nya kepadamu; dan kiranya kamu kembali kepada (kederhakaan), nescaya Kami kembali (mengazabmu) dan Kami jadikan neraka Jahanam penjara bagi orang- orang yang tidak beriman." (QS. al-Isra': 4-8)


Ayat-ayat tersebut menunjukkan tentang hukum azali yang tidak pernah berubah pada kehidupan bangsa dan umat di mana umat itu akan tampak kuat selama mereka berpegangan dengan tali Allah s.w.t dan ketika mereka meninggalkan hakikat kekuatan. iaitu kekuatan yang bersandar kepada Allah s.w.t dan mereka memilih menyembah selain-Nya dan menjadikan dunia sebagai tujuan hidup mereka, maka ketika ini terjadi, Allah s.w.t akan mengutus kepada mereka orang-orang yang menghancurkan mereka.


Para mufasir menyebutkan bagaimana terjadinya peristiwa penghancuran Haikal Sulaiman dan penghancuran Baitul Maqdis. Mereka mengatakan: "Allah s.w.t mewahyukan kepada salah seorang nabi dari kalangan Bani Israil yang bernama Armiya ketika muncul berbagai kemaksiatan di tengah-tengah mereka, hendaklah engkau menyampaikan kepada kaummu dan beritahukan kepada mereka bahawa mereka memiliki hati tetapi mereka tidak mengerti; mereka memiliki mata tetapi mereka tidak melihat; dan mereka memiliki telinga tetapi mereka tidak mendengar.


Kemudian nabi itu menerima wahyu dan ia diperintahkan untuk bertanya kepada Bani Israil, apakah salah seorang mereka merasa gembira ketika bermaksiat kepada Allah s.w.t, dan apakah seseorang merasa sedih dan gelisah ketika taat kepada Allah s.w.t. Haiwan biasanya ingat kepada tempat asalnya dan kembali kepadanya,  sedangkan  kaum  itu justru meninggalkan  asal-muasal mereka yang hakiki, yaitu hakikat tauhid. Jadi, sebenarnya mereka lebih jahat dari binatang."


Demikianlah kalimat-kalimat Ilahi disampaikan di tengah-tengah para pendeta dan para penguasa, namun para pendeta justru membuat tuhan lain selain Allah s.w.t dan mereka menggiring manusia untuk menyembah sesama manusia. Adapun para penguasa, mereka membangkang pada nikmat Allah s.w.t dan merasa tenang dengan azab Allah s.w.t yang dahsyat. Mereka tertipu dengan dunia. Mereka mencampakkan Kitab Allah s.w.t dan melupakan janji-Nya. Mereka mengubah-ubah Kitab Allah s.w.t (Taurat). Mereka menciptakan kebohongan kepada para rasul-Nya dan membunuh mereka tanpa alasan yang benar.


Sedangkan para fuqaha dan orang-orang cerdik, mereka mempelajari sesuatu sesuai dengan kepentingan mereka. Mereka mengambil sebahagian Kitab dan meninggalkan sebahagiannya. Mereka mendukung para penguasa yang lalim yang membuat penyelewengan dalam agama. Mereka justru mentaati penguasa itu meskipun benar-benar bermaksiat kepada Allah s.w.t. Mereka membatalkan perjanjian dengan Allah s.w.t.


Sementara itu, anak-anak nabi, maka mereka menjadi orang-orang yang kalah. mereka berharap agar Allah s.w.t menolong mereka seperti ayah- ayah mereka ditolong. Mereka tidak ingat bagaimana sikap wara' ayah- ayah mereka dan bagaimana mereka mencurahkan usaha mereka, bahkan darah mereka tertumpah tetapi mereka sabar dan mereka tetap percaya kepada janji Allah s.w.t, sehingga Dia memuliakan agamanya dan memenangkan mereka.


Demikianlah Armiya terus menyiarkan berita tentang kebenaran dan mengingatkan kaumnya dan memberi mereka kesempatan terakhir untuk bangkit dan kembali pada agama tauhid. Kalau tidak, Allah s.w.t akan mengutus kepada mereka seorang penguasa yang bengis di mana pasukannya bagaikan sekawanan awan yang akan menghancurkan bangunan-bangunan yang mereka bangun dan akan meninggalkan desa yang mereka huni dalam keadaan yang mengerikan. Ibnu Katsir berkata dengan menukil apa yang dinyatakan oleh Ibnu Asakir:


"Duhai Ilya dan penghuninya, bagaimana mereka dihinakan dengan pembunuhan dan mereka menjadi tawanan-tawanan yang hina, tempat- tempat istana mereka yang mengagumkan menjadi tempat-tempat tinggalnya haiwan-haiwan buas. Aku akan menghancurkan mereka dengan berbagai azab. Jika langit menurunkan hujan di atas bumi, maka bumi tidak akan tumbuh. Bila tumbuh suatu tumbuhan di bumi, maka itu adalah sebagai rahmat-Ku terhadap binatang-binatang. Jika mereka menanam sesuatu, maka tanaman mereka akan dikuasai oleh hama dan jika ada tumbuhan yang selamat darinya, maka Aku akan cabut darinya keberkahan, dan jika mereka berdoa Aku tidak akan mengabulkan dan jika mereka meminta, maka Aku tidak akan memberi dan jika mereka menangis, maka aku tidak akan menyayangi, dan jika mereka berusaha bersikap rendah diri, maka Aku akan memalingkan wajah-Ku dari mereka."


Ilya menyampaikan kepada kaumnya tentang azab Allah s.w.t yang akan meliputi segala sesuatu, namun orang-orang Yahudi menyambut dakwahnya dengan kebohongan dan kemaksiatan dan mereka menuduhnya dengan kebohongan.


Mereka berkata kepadanya, "Bagaimana engkau berbohong dan mengaku bahawa Allah s.w.t akan menghancurkan bumi-Nya dan masjid-masjid- Nya lalu siapa yang akan menyembah-Nya jika tidak ada seorang pun di muka bumi yang menyembah-Nya, juga tidak ada masjid dan tidak ada Kitab. Sungguh engkau telah gila wahai Ilya." Akhirnya pertentangan antara Ilya dan kaumnya berakhir pada pemenjaraannya. Pada saat yang sama, datanglah pasukan Bakhtansir menuju mereka. Orang-orang Yahudi terkejut ketika mendengar suara derap kaki kuda dan suara panah-panah yang melayang dan bau kebakaran. Pasukan itu memasuki desa-desa dan kota-kota. Mereka mengelilingi segenap penjuru kota dan desa. Pemimpin pasukan itu menyerbu orang-orang Yahudi dan menghancurkan mereka: sepertiga dibunuh, sepertiga ditawan, sementara wanita-wanita tua dan lelaki-lelaki tua dibiarkan hidup.


Baitul Maqdis dihancurkan dan tempat ibadah itu pun hancur. Orang- orang laki-laki dibunuh dan benteng-benteng kukuh pun dibakar, bahkan ulama-ulamanya dan fuqaha-fuqahanya dibunuh dan tak seorang pun hidup di antara mereka. Rumah-rumah orang-orang Yahudi tidak lagi dihuni kecuali oleh burung hantu dan binatang buas. Lalu sebahagian orang-orang Yahudi dari Bani Israil meninggalkan tempat itu dan tempat itu pun menjadi tempat yang tandus untuk waktu yang lama sehingga Allah s.w.t mengizinkan kepada sebahagian cucu dari kaum itu untuk kembali dan mereka pun kembali.

Selama terjadi peristiwa yang berdarah tersebut, Uzair tidur dan dialah satu-satunya yang menjaga Taurat.



ARTIKEL SEJARAH LAINNYA :


Read More ->>

KISAH SEMUT DAN NABI SULAIMAN (Kisah 2)

http://hariyantosoftnet.blogspot.com/2014/10/kisah-semut-dan-nabi-sulaiman-kisah-2.html
          
  Di zaman Nabi Allah Sulaiman berlaku satu peristiwa, apabila Nabi Allah Sulaiman nampak seekor semut melata di atas batu; lantas Nabi Allah Sulaiman merasa hairan bagaimana semut ini hendak hidup di atas batu yang kering di tengah‐ tengah padang pasir yang tandus.


Nabi Allah Sulaiman pun bertanya kepada semut: "Wahai semut apakah engkau yakin ada makanan cukup untuk kamu".


Semut pun menjawab: "Rezeki di tangan ALLAH, aku percaya rezeki di tangan ALLAH, aku yakin di atas batu kering di padang pasir yang tandus ini ada rezeki untuk ku".


Lantas Nabi Allah Sulaiman pun bertanya: "Wahai semut, berapa banyakkah engkau makan? Apakah yang engkau gemar makan? Dan banyak mana engkau makan dalam sebulan?"


Jawab semut: "Aku makan hanya sekadar sebiji gandum sebulan".


Nabi Allah Sulaiman pun mencadangkan: "Kalau kamu makan hanya sebiji gandum sebulan tak payah kamu melata di atas batu, aku boleh tolong".


Nabi Allah Sulaiman pun mengambil satu bekas, dia angkat semut itu dan dimasukkan ke dalam bekas; kemudian Nabi ambil gandum sebiji, dibubuh dalam bekas dan tutup bekas itu.


Kemudian Nabi tinggal semut didalam bekas dengan sebiji gandum selama satu bulan.


Bila cukup satu bulan Nabi Allah Sulaiman lihat gandum sebiji tadi hanya dimakan setengah sahaja oleh semut, lantas Nabi Allah Sulaiman menemplak semut: "Kamu rupanya berbohong pada aku!. Bulan lalu kamu kata kamu makan sebiji


gandum sebulan, ini sudah sebulan tapi kamu makan setengah".


Jawab semut: "Aku tidak berbohong, aku tidak berbohong, kalau aku ada di atas batu aku pasti makan apapun sehingga banyaknya sama seperti sebiji gandum sebulan, kerana makanan itu aku cari sendiri dan rezeki itu datangnya daripada Allah dan Allah tidak pernah lupa padaku.


Tetapi bila kamu masukkan aku dalam bekas yang tertutup, rezeki aku bergantung pada kamu dan aku tak percaya kepada kamu, sebab itulah aku makan setengah sahaja supaya tahan dua bulan. Aku takut kamu lupa".


Itulah Iman Semut!!



ARTIKEL SEJARAH LAINNYA :
Read More ->>